Inisiatif yang Direnggut

Ada kutipan yang sangat bagus dari sebuah buku berjudul Jatuh Hati pada Montessori (halaman 51) karya Vidya Dwina Paramita, seorang praktisi pendidikan anak usia dini. Tulisan yang terlihat sederhana dan umum namun mempunyai makna yang sangat luas. Kalimat yang sepertinya menjadi poin paling penting dalam paragraf tersebut berbunyi begini,

“..untuk membantu pun kita perlu meminta izin terlebih dahulu kepada orang yang akan kita bantu.”

Sebagai seorang praktisi pendidikan anak usia dini, Mbak Vidya memberikan contoh situasi yang terjadi di sekolah. Seorang anak yang menangis sedih dan marah karena temannya tiba-tiba mengambilkan tas miliknya tanpa izin terlebih dahulu. Terdengar sepele ya, dan mungkin sebagian kita cenderung menegur anak yang menangis dengan berpikir, “Kenapa dibantu malah menangis?”, “Seharusnya senang dan berterima kasih dong, karena sudah dibantu?”, dan sejenisnya.

Tanpa kita sadari, kita telah mengabaikan poin paling penting dari situasi tersebut. Bantuan yang tidak diminta atau tanpa izin dari orang yang akan dibantu bisa jadi justru menjadi gangguan bagi orang tersebut. Ada kalanya, bantuan yang tiba-tiba itu memang tidak dibutuhkan. Ada kalanya, ia memang bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan. Atau bisa jadi, ia sedang ingin melakukannya sendiri dengan  caranya sendiri.

Bayangkan, kita berencana akan mengecat tembok kamar dengan warna hijau pastel saat akhir pekan. Kita beli cat hijau dan putih sebagai campuran. Esoknya sepulang kerja, kita dikejutkan dengan kamar yang sudah dicat dengan warna separuh hijau separuh putih. Apa reaksi pertama kita? Kaget, tentu. Marah, pasti.

Kenapa marah? Sebab kita merasa direnggut inisiatifnya, merasa dilangkahi rencananya, merasa dicuri haknya. Dan merasa diikut-campuri urusannya. Jadi, tidak sesimpel “..wong sudah dibantu, bukannya terima kasih malah marah.” Sama sekali tidak sesederhana itu. Ini bukan masalah bersyukur atau tidak bersyukur sudah dibantu, tapi tentang menghargai hak inisiatif seseorang.

Kembali ke anak yang diambilkan tasnya tanpa izin. Bisa jadi, ia sedang ingin melakukannya sendiri. Bisa jadi, ia punya rutinitas khusus sebelum ia mengambil tasnya, misal mengecek ulang isi tas. Bisa jadi, ia belum berencana mengambilnya saat itu. Nah, sekarang kita tahu dari mana timbulnya tangisan sedih dan rasa marah itu.  Lagi-lagi, tidak sesederhana, “..wong sudah dibantu, bukannya terima kasih malah marah.” Sama sekali bukan.

Perasaan yang ditimbulkan dari situasi tersebut bisa jadi tidak hanya marah tapi juga kecewa. Jika terjadi pada seorang anak oleh orang tuanya, perasaan kecewa itu bisa berkembang menjadi perasaan tidak dihargai, perasaan tidak diberi kesempatan untuk berkembang. Perasaan tidak dipercaya bisa melakukan rencananya dan dengan caranya sendiri. Banyak ya ternyata.

Dalam kasus per-momongan, anak dengan usia memasuki 2 tahun ke atas sering kali mengatakan kalimat, “Aku mau melakukannya sendiri”, bahkan sesimpel apa pun pekerjaan itu. Mengelap bekas tumpahan air, menata sepatu, melepas pakaian, dll. Dan tidak jarang pula, anak menjadi tantrum ketika kita mendahului pekerjaan yang akan dia lakukan. Marah besar karena bajunya kita lepaskan tanpa izinnya terlebih dahulu, padahal dia mau melepaskannya sendiri.

Kenapa hal yang terlihat sepele seperti itu bisa membuatnya tantrum? Lagi-lagi, sebab dia merasa direnggut inisiatifnya. Perasaan sedih dan marah yang sama saat seorang teman mengambilkan tas tanpa izin. Perasaan marah dan kecewa yang sama saat kamar kita dicat separuh hijau separuh putih tanpa seizin kita. Sekali lagi, membantu itu baik, tapi bantuan yang tidak diminta atau tanpa izin, sangat mungkin justru menjadi gangguan.

Jadi, minta izinlah saat hendak membantu, sesederhana apa pun bantuan tersebut. Satu, itu adab dan kesopanan terhadap sesama, bahkan kepada yang jauh lebih muda sekalipun. Dua, kemampuan menghargai inisiatif orang lain menunjukkan seberapa jauh kita patut dihargai oleh orang lain.

Yuk nilai postingan ini
[Total: 3 Average: 4.3]

Tinggalkan komentar